Petani Tiga Desa Di Tulungagung Harapkan Dukungan Gubernur Untuk Pengairan 148 Hektare Lahan Pertanian

suaramerahputih.id // TULUNGAGUNG — Persoalan ketersediaan air kembali menjadi perhatian masyarakat di wilayah Kecamatan Gondang, Kabupaten Tulungagung. Memasuki musim kemarau, para petani di Desa Jarakan, Desa Tiyudan, dan Desa Bolo harus menghadapi keterbatasan pasokan air untuk mengairi lahan pertanian mereka.

Melalui sebuah surat terbuka yang ditujukan kepada Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, masyarakat menyampaikan harapan agar pemerintah provinsi memberikan perhatian terhadap kebutuhan pengairan lahan pertanian seluas kurang lebih 148 hektare di tiga desa tersebut.

Keterbatasan air selama musim kemarau membuat sebagian lahan pertanian tidak dapat dimanfaatkan secara optimal. Bahkan, dalam kondisi tertentu, lahan terpaksa dibiarkan menunggu hingga musim hujan tiba.

Bagi petani penggarap, persoalan tersebut bukan semata-mata mengenai produktivitas sawah. Ketika lahan tidak dapat ditanami, sumber penghasilan ikut terhenti, sementara kebutuhan keluarga tetap harus dipenuhi.

Baca Juga  Desa Manding Gelar Pembinaan Dan Monitoring APBDes Semester II 2024 Dan Semester I 2025

Dalam surat terbuka tersebut disebutkan, kondisi lahan yang tidak produktif dapat berlangsung hingga sekitar lima bulan setiap musim kemarau. Situasi itu membuat puluhan petani penggarap dari tiga desa harus mencari alternatif pekerjaan maupun sumber penghasilan lain untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Berharap Air Waduk Wonorejo Bisa Lebih Bermanfaat

Masyarakat sebenarnya memiliki sumber air dari Waduk Wonorejo yang dinilai berpotensi memberikan manfaat lebih besar bagi kawasan pertanian di sekitarnya. Namun, hingga kini kebutuhan pengairan lahan pertanian di tiga desa tersebut belum sepenuhnya teratasi.

Salah satu alternatif yang selama ini dipertimbangkan adalah pemanfaatan pompa air bawah tanah. Namun, penggunaan secara besar-besaran juga dikhawatirkan dapat memengaruhi ketersediaan air bagi masyarakat yang membutuhkan sumber air untuk keperluan sehari-hari.

Atas kondisi tersebut, masyarakat berharap pemerintah dapat menghadirkan solusi yang lebih berkelanjutan melalui pembangunan jaringan pengairan dari DAM Kleben menuju lahan pertanian seluas sekitar 148 hektare.

Berdasarkan perhitungan dan perencanaan yang telah diupayakan, pembangunan sistem pengairan tersebut diperkirakan membutuhkan anggaran sekitar Rp3 miliar.

Baca Juga  Akses Ke Pantai Molang Terputus, Jembatan Penghubung Ambruk Diterjang Banjir

Jika jaringan pengairan dapat direalisasikan, masyarakat optimistis lahan pertanian di Desa Jarakan, Tiyudan, dan Bolo dapat dimanfaatkan secara lebih maksimal. Bahkan, dengan ketersediaan air yang memadai, lahan tersebut dinilai berpotensi mendukung pola tanam hingga tiga kali dalam setahun.

Kades Jarakan Disebut Telah Beberapa Kali Mengajukan Proposal

Dalam surat tersebut juga disampaikan bahwa Kepala Desa Jarakan, Su’ad Bagiyo, S.H., telah beberapa kali mengajukan proposal kepada pemerintah, baik di tingkat kabupaten maupun provinsi.

Namun, hingga kini usulan tersebut belum terealisasi.

Masyarakat melalui surat terbuka itu menegaskan bahwa harapan yang disampaikan bukanlah permintaan kemewahan, melainkan kebutuhan mendasar agar lahan pertanian mereka dapat kembali produktif.

Kami tidak sedang meminta kemewahan. Kami hanya berharap air dapat mengalir ke sawah, agar para petani dapat bekerja dan memperoleh penghasilan dari tanah mereka sendiri,” demikian inti aspirasi yang disampaikan dalam surat tersebut.

Bagi masyarakat, ketika sawah tidak dapat ditanami, persoalan ekonomi keluarga ikut terdampak. Kebutuhan hidup tetap berjalan meskipun hasil pertanian tidak bisa diandalkan selama musim kemarau. Kondisi tersebut bahkan berpotensi membuat sebagian petani harus mencari pinjaman untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Baca Juga  Pemdes Panggungkalak Salurkan BLT Dana Desa Juli - Agustus 2026 Kepada 9 KPM

Irigasi Dipandang sebagai Investasi Masa Depan Petani

Masyarakat berharap Pemerintah Provinsi Jawa Timur dapat memberikan perhatian dan tindak lanjut terhadap kebutuhan pembangunan jaringan pengairan tersebut.

Sebab, pembangunan irigasi dinilai bukan sekadar membangun saluran air, melainkan bagian dari upaya meningkatkan produktivitas pertanian, memperkuat ketahanan pangan, sekaligus menjaga keberlangsungan ekonomi masyarakat pedesaan.

Harapan itu kini diarahkan kepada pemerintah agar persoalan yang berlangsung setiap musim kemarau tersebut dapat memperoleh solusi konkret dan berkelanjutan.

Masyarakat ingin sawah tetap produktif, petani tetap memiliki pekerjaan, dan hasil pertanian mampu menjadi sumber penghidupan yang lebih baik bagi keluarga.

Pada akhirnya, aspirasi sederhana yang disampaikan melalui surat terbuka tersebut bermuara pada satu harapan: air mengalir ke sawah, pertanian kembali hidup, dan masa depan petani menjadi lebih baik. (Munardi5758)

Tulungagung
broken clouds
32.7 ° C
32.7 °
32.7 °
65%
4.3m/s
52%
Fri
30 °
Sat
33 °
Sun
31 °
Mon
29 °
Tue
29 °

Latest Post

Popular