suaramerahputih.id // TULUNGAGUNG – Pemerintah Desa Samar, Kecamatan Pagerwojo, Kabupaten Tulungagung, menggelar pagelaran wayang kulit dan pentas seni dalam rangka memperingati tradisi bersih desa tahun 2026. Kegiatan tersebut berlangsung meriah di Balai Desa Samar pada Kamis malam (23/4/2026), dan berhasil menyedot antusiasme ribuan warga yang memadati lokasi acara hingga dini hari.
Acara ini dihadiri oleh jajaran Forkopimcam Pagerwojo, Kepala Desa Samar beserta seluruh perangkat desa, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta tamu undangan lainnya. Kehadiran berbagai elemen tersebut menjadi bukti kuatnya sinergi antara pemerintah desa dan masyarakat dalam melestarikan tradisi budaya lokal.
Sebelum pagelaran dimulai, Kepala Desa Samar, Rubik Astono, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh panitia yang telah bekerja keras demi terselenggaranya kegiatan tersebut dengan baik. Ia menegaskan bahwa tradisi bersih desa bukan sekadar seremonial, melainkan wujud syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa sekaligus momentum mempererat kebersamaan warga.
“Bersih desa memiliki makna mendalam sebagai ungkapan rasa syukur atas limpahan rezeki dan keselamatan yang diberikan, sekaligus sebagai upaya menjaga harmoni dan kebersamaan di tengah masyarakat,” ungkap Rubik Astono.

Sebagai tanda dimulainya pagelaran, dilakukan prosesi serah terima wayang berupa gunungan dari Kepala Desa kepada dalang. Prosesi sakral ini menjadi simbol dibukanya pertunjukan wayang kulit yang sarat nilai filosofi dan kearifan lokal.
Pada kesempatan tersebut, panggung budaya Desa Samar menghadirkan dua dalang kondang asal Trenggalek, yakni Ki Maryoto dan Ki Andri Sungging Handoyo. Keduanya tampil memukau dengan kepiawaian memainkan lakon serta menghidupkan karakter wayang secara dinamis dan penuh ekspresi.
Pagelaran wayang kulit malam itu mengangkat lakon “Sri Muleh”, sebuah cerita yang sarat pesan moral tentang perjalanan hidup, kesetiaan, dan nilai-nilai kebijaksanaan. Alur cerita yang kuat dipadukan dengan dialog khas pewayangan, iringan gamelan, serta guyonan segar dari para dalang mampu menghidupkan suasana dan memikat perhatian penonton dari berbagai kalangan.
Sepanjang malam, ribuan warga tampak antusias menyaksikan setiap adegan demi adegan. Kepiawaian para dalang dalam membawakan cerita membuat penonton larut dalam alur kisah, bahkan tetap setia bertahan hingga pagelaran berakhir menjelang pagi.
Kemeriahan pagelaran wayang kulit ini tidak hanya menjadi hiburan bagi masyarakat, tetapi juga menjadi wujud nyata pelestarian budaya adiluhung yang terus dijaga oleh Pemerintah Desa Samar. Tradisi bersih desa pun kembali menjadi momentum penting untuk memperkuat nilai kebersamaan, gotong royong, serta kecintaan terhadap warisan budaya bangsa.
Pewarta : Munardi5758


