suaramerahputih.id // TULUNGAGUNG – Memasuki usia ke-133 tahun, Desa Demuk, Kecamatan Pucanglaban, Kabupaten Tulungagung, memperingati hari jadinya dengan menggelar tumpengan, selamatan, tahlilan, dan tausiah pada Jumat malam, 9 Oktober 2026. Kegiatan yang berlangsung di Aula Balai Desa Demuk tersebut menjadi momentum untuk memanjatkan rasa syukur sekaligus mengenang jasa para pendiri dan tokoh yang telah berjasa bagi desa.
Suasana khidmat dan penuh kebersamaan mewarnai kegiatan yang dimulai pukul 19.30 WIB hingga selesai itu. Sekitar 112 orang hadir, terdiri atas Camat Pucanglaban Setiono, S.Sos., M.M., Kapolsek Pucanglaban, Kepala Desa Demuk Suwari, seluruh perangkat desa, Bhabinkamtibmas, Babinsa, tokoh agama, tokoh adat, tokoh masyarakat, Badan Permusyawaratan Desa (BPD), Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM), serta para ketua RT dan RW.
Rangkaian acara diawali dengan pembukaan, kemudian dilanjutkan sambutan Camat Pucanglaban, Setiono, S.Sos., M.M. Dalam sambutannya, ia menyampaikan ucapan selamat atas Hari Jadi Desa Demuk yang ke-133. Ia juga mengapresiasi penyelenggaraan kegiatan yang tetap mempertahankan adat istiadat dan budaya Jawa sebagai bagian dari identitas serta kekayaan tradisi masyarakat setempat.

Menurutnya, peringatan hari jadi desa tidak sekadar menjadi penanda perjalanan waktu, tetapi juga menjadi kesempatan untuk mempererat kebersamaan dan menjaga warisan budaya yang telah diwariskan oleh para leluhur.
Sambutan berikutnya disampaikan Kepala Desa Demuk, Suwari. Ia mengucapkan terima kasih kepada seluruh undangan yang telah hadir dan mengikuti rangkaian kegiatan. Suwari juga menyampaikan rasa syukur karena masyarakat Desa Demuk masih dapat memperingati hari jadi desa dengan suasana kebersamaan, doa, dan penghormatan kepada para pendahulu.
Nuansa sejarah turut mewarnai peringatan tersebut. Sebelum pelaksanaan tahlilan, Sakhur memaparkan sejarah berdirinya Desa Demuk sebagai pengingat perjalanan panjang desa sekaligus penghormatan kepada para pendiri dan tokoh yang telah memberikan jasa bagi perkembangan desa hingga saat ini.
Acara kemudian dilanjutkan dengan pembacaan tahlil yang dipimpin oleh Imam Rosadi sebagai imam tahlilan, serta pembacaan doa oleh Abdul Majid. Doa-doa dipanjatkan sebagai ungkapan rasa syukur sekaligus bentuk penghormatan kepada para pendiri dan orang-orang yang telah berjasa bagi Desa Demuk dan kini telah tiada.
Kegiatan semakin bermakna dengan tausiah yang disampaikan Tarmuji, S.F. Pesan-pesan keagamaan yang disampaikan menjadi pengingat bagi masyarakat untuk senantiasa menjaga persaudaraan, memperkuat nilai-nilai kebaikan, serta meneruskan semangat para pendahulu dalam membangun desa.
Seluruh rangkaian acara dipandu oleh Samsul Arifin selaku pembawa acara. Setelah tahlilan dan tausiah selesai, kegiatan dilanjutkan dengan kenduri yang diawali dengan ujub atau kajat oleh Samsudin, sesuai tradisi yang hidup di tengah masyarakat Jawa.
Peringatan kemudian ditutup dengan kembul bujono, yakni makan bersama sebagai simbol kebersamaan, kerukunan, dan persaudaraan antarwarga. Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung dengan lancar dalam suasana khidmat dan penuh kekeluargaan.
Melalui peringatan Hari Jadi ke-133 ini, Desa Demuk tidak hanya mengenang perjalanan sejarahnya, tetapi juga meneguhkan komitmen untuk menjaga tradisi, menghormati jasa para leluhur, serta merawat semangat gotong royong demi kemajuan desa di masa mendatang. (DN’97)
