Inovasi IoT Perkuat Keselamatan Rafting Sungai Palayangan, Kesiapsiagaan Meningkat Hingga 80 Persen

suaramerhaputih.id // PANGALENGAN, KABUPATEN BANDUNG — Keselamatan menjadi salah satu aspek utama dalam pengelolaan wisata arung jeram, terutama di tengah dinamika kondisi sungai yang dapat berubah sewaktu-waktu. Menjawab kebutuhan tersebut, dosen Politeknik LP3I Jakarta dan Universitas Putra Indonesia Cianjur mengembangkan inovasi teknologi berbasis Internet of Things (IoT) untuk memperkuat sistem kesiapsiagaan dan keselamatan rafting di Sungai Palayangan, Pangalengan, Kabupaten Bandung.

Inovasi tersebut diterapkan melalui program pemberdayaan masyarakat yang berlangsung selama delapan bulan pada 2026 bersama Paguyuban Rafting Sungai Palayangan (PRSP). Program mengintegrasikan Sistem Informasi Mitigasi Bencana–Early Warning System (SIMB-EWS), SOP Keselamatan Digital, Unit Reaksi Cepat, serta pelatihan manajemen krisis dan komunikasi risiko.

Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan signifikan dalam kapasitas pengelola. Kemampuan manajerial dan kepatuhan terhadap standar keselamatan operasional meningkat dari 40 persen menjadi 80 persen. Sementara pemahaman mengenai kualitas pelayanan dan jaminan keamanan atau assurance melonjak dari 5 persen menjadi 85 persen.

Peningkatan tersebut menjadi indikator bahwa penerapan teknologi tidak hanya memberikan perangkat baru, tetapi juga mendorong perubahan dalam pola kerja, koordinasi, serta budaya keselamatan di lingkungan pengelola wisata arung jeram.

Dari Pemantauan Manual Menuju Sistem Otomatis

Sebelum program diterapkan, pemantauan kondisi Sungai Palayangan masih banyak mengandalkan pengamatan visual secara langsung serta komunikasi manual antaranggota. Pola tersebut berpotensi menimbulkan jeda informasi ketika terjadi perubahan kondisi sungai yang membutuhkan respons cepat.

PRSP sendiri menaungi 36 operator rafting dengan lintasan pengarungan sepanjang sekitar 4,6 kilometer. Hasil analisis awal menunjukkan tingkat kesiapsiagaan bencana berada pada angka 40 persen, sedangkan adopsi teknologi keselamatan baru mencapai sekitar 5 persen.

Baca Juga  Wali Murid Keluhkan Biaya Purnawiyata SD Plus Sunan Pandan Aran, Ormas Bidik Jatim Minta Evaluasi Dan Klarifikasi

Melalui penerapan SIMB-EWS, sistem pemantauan kemudian dikembangkan menjadi lebih terintegrasi. Teknologi tersebut memanfaatkan sensor ultrasonik untuk memantau elevasi air, jaringan komunikasi LoRaWAN, server berbasis cloud, dashboard monitoring, serta push notification otomatis.

Dua sensor Milesight EM500-UDL dipasang untuk mendukung pemantauan kondisi air. Data dari sensor kemudian diteruskan melalui LoRaWAN Gateway UG56 menuju sistem cloud. Selanjutnya, informasi ditampilkan melalui dashboard ThingsBoard dan dapat memberikan notifikasi otomatis apabila hasil pemantauan menunjukkan kondisi yang melewati ambang batas aman.

Dengan dukungan teknologi tersebut, pemantauan yang sebelumnya dilakukan secara manual dapat berlangsung secara otomatis selama 24 jam. Data yang diperoleh tidak sekadar menjadi informasi teknis, tetapi juga dapat dimanfaatkan sebagai dasar komunikasi, koordinasi, dan pengambilan keputusan operasional.

Pengelola Rafting Merasakan Manfaat Langsung

Penerapan teknologi tersebut mendapat respons positif dari pengelola rafting. Perwakilan Paguyuban Rafting Sungai Palayangan, Devi dan Natep, menilai program memberikan dukungan baru dalam meningkatkan kesiapsiagaan serta keselamatan di lapangan.

“Kami sangat senang dan merasa terbantu dengan adanya program ini. Sebelumnya pemantauan kondisi sungai masih banyak mengandalkan pengamatan langsung dan komunikasi antaranggota. Dengan adanya sistem ini, kami mendapatkan dukungan teknologi sekaligus pengetahuan dan prosedur yang lebih jelas untuk meningkatkan keselamatan,” ujar Devi.

Senada dengan itu, Natep menilai program tidak hanya memberikan perangkat teknologi, tetapi juga membekali pengelola dengan pemahaman mengenai cara membaca dan memanfaatkan informasi kondisi sungai dalam menentukan langkah yang diperlukan.

“Yang kami rasakan bukan hanya mendapatkan alat, tetapi juga mendapatkan pengetahuan dan pelatihan tentang bagaimana menggunakan informasi tersebut untuk mengambil tindakan. Adanya SOP dan Unit Reaksi Cepat juga membantu kami dalam memperkuat koordinasi ketika menghadapi kondisi yang membutuhkan respons cepat,” ujarnya.

Baca Juga  SMKN 1 Pagerwojo Sembelih 3 Ekor Sapi Dan 1Kambing, Wujudkan Semangat Berkurban Dan Kepedulian Sosial Di Idul Adha 1446 H

Keterlibatan pengelola menjadi bagian penting dalam keseluruhan program. Paguyuban dilibatkan sejak tahap identifikasi masalah, penentuan lokasi pemasangan perangkat, pelatihan, pengoperasian sistem, penyusunan SOP hingga proses evaluasi.

Teknologi Diikuti Penguatan Sumber Daya Manusia

Program penguatan keselamatan tersebut tidak berhenti pada pemasangan sensor. Peningkatan kapasitas sumber daya manusia menjadi bagian penting untuk memastikan teknologi dapat dimanfaatkan secara optimal dan berkelanjutan.

Sebanyak 10 perwakilan anggota mitra mengikuti pelatihan yang mencakup pengoperasian sistem, manajemen krisis wisata tirta, penerapan SOP Keselamatan Digital, serta komunikasi risiko.

Selain itu, dibentuk Unit Reaksi Cepat yang bertugas memperjelas pembagian peran dan tanggung jawab ketika sistem memberikan peringatan. SOP Keselamatan Digital juga dirancang untuk menghubungkan informasi dari sistem peringatan dini dengan tahapan respons di lapangan.

Dengan demikian, data yang dihasilkan sensor tidak berhenti sebagai informasi teknis, tetapi dapat diterjemahkan menjadi langkah konkret melalui mekanisme koordinasi yang telah disiapkan.

Keselamatan Menjadi Bagian dari Kualitas Layanan

Penguatan keselamatan juga diarahkan pada aspek pelayanan kepada wisatawan. Melalui pelatihan safety branding, keselamatan diperkenalkan sebagai bagian integral dari kualitas pelayanan wisata rafting.

Aspek tersebut mencakup pemberian briefing sebelum pengarungan, penyampaian informasi mengenai potensi risiko, prosedur respons, hingga komunikasi kesiapsiagaan kepada wisatawan secara konsisten.

Hasil evaluasi mencatat peningkatan pemahaman mengenai kualitas pelayanan dan assurance keselamatan sebesar 80 poin persentase, dari sebelumnya 5 persen menjadi 85 persen.

Baca Juga  Politeknik LP3I Jakarta Gelar PKM Kolaboratif Di Bantaragung, Dorong Pemberdayaan Desa Dan Wisata Berkelanjutan

Capaian tersebut menunjukkan adanya penguatan pada tiga aspek sekaligus, yakni teknologi, organisasi, dan pelayanan. Dari sisi teknologi, tersedia sistem pemantauan kondisi sungai yang lebih kontinu. Dari sisi organisasi, terdapat SOP serta struktur koordinasi untuk menghadapi kondisi darurat. Sementara dari sisi pelayanan, para pemandu memperoleh penguatan kapasitas dalam menyampaikan informasi keselamatan dan komunikasi risiko kepada wisatawan.

Mendorong Wisata Rafting yang Lebih Tangguh

Penerapan teknologi IoT di Sungai Palayangan menjadi salah satu contoh pemanfaatan inovasi digital untuk mendukung kesiapsiagaan bencana pada destinasi wisata alam.

Meski demikian, keberlanjutan sistem tetap membutuhkan komitmen bersama. Pemeliharaan sensor dan server, pembaruan SOP, latihan respons secara berkala, hingga mekanisme pembiayaan operasional antaroperator menjadi sejumlah hal yang perlu diperhatikan agar sistem dapat terus berjalan secara optimal.

Program pemberdayaan masyarakat tersebut dilaksanakan bersama Paguyuban Rafting Sungai Palayangan pada Tahun Anggaran 2026 dengan dukungan pendanaan dari Program Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat, Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.

Hasil program tersebut juga telah dipublikasikan dalam Kegiatan Positif: Jurnal Hasil Karya Pengabdian Masyarakat Volume 4 Nomor 3, September 2026, melalui artikel berjudul “Pengembangan Kapasitas SDM dan Budaya Keselamatan Berbasis Inovasi Teknologi untuk Meningkatkan Kesiapsiagaan Bencana pada Paguyuban Rafting Sungai Palayangan Pangalengan.”

Inovasi tersebut menunjukkan bahwa pemanfaatan teknologi dapat berjalan beriringan dengan penguatan kapasitas manusia. Bagi wisata rafting, sistem peringatan dini bukan sekadar perangkat digital, melainkan bagian dari upaya membangun budaya keselamatan yang lebih terukur, responsif, dan berkelanjutan. (M. Sinung Restendy)

Tulungagung
few clouds
23.6 ° C
23.6 °
23.6 °
97%
1.4m/s
18%
Fri
23 °
Sat
37 °
Sun
32 °
Mon
31 °
Tue
32 °

Latest Post

Popular