suaramerahputih.id // Blitar – Ketenangan hutan pinus Loji Gandusari, lereng Gunung Kelud, mendadak runtuh seketika. Bukan karena gempa, bukan pula karena letusan, melainkan karena kedatangan Tim 4Welas Camp Explorer yang kembali “membuat ulah dan onar” dengan menggelar camping bersama.
Seperti biasa, camping di alam terbuka menjadi pilihan utama Tim 4Welas Camp Explorer. Namun perlu dicatat, ini bukan sekadar camping biasa. Ini adalah camping rasa hajatan keluarga, lengkap dengan anak, istri, tawa, canda, hingga suara ribut yang bisa mengalahkan pengeras suara masjid.

Tim yang dihuni para “om-om tangguh” seperti Om Aris, Om Ganong, Om Malik, Om Hadi, Om Hakim, Mas Mul, Om Gembul, Om Yus, Om Erik, Om Rahman, Om Nanang, Om Tri, dan masih banyak lagi pasukan tak terdata lainnya ini, datang dengan satu misi mulia: menikmati kebersamaan dalam bingkai kekeluargaan—dan tentu saja bikin suasana jadi rame.
Namun, alam rupanya ingin menguji mental mereka. Baru saja tiba, Tim 4Welas langsung disambut hujan deras. Alhasil, seluruh anggota tim mendadak berubah profesi menjadi penunggu mobil, ngumpet rapi sambil melototi hujan, berharap cepat reda. Ada yang pura-pura sibuk main HP, ada yang tidur-tiduran, dan ada juga yang melamun sambil mikir, “Iki camping opo nyewa parkiran?”

Setelah hujan sedikit berbaik hati, barulah aksi dimulai. Semua turun dari mobil dan beramai-ramai mendirikan tenda demi melindungi anak dan istri tercinta. Prosesnya? Jangan ditanya. Ada tenda miring, pasak mental, dan tali yang entah ujungnya ke mana. Ditambah kondisi basah kuyup, tawa pun pecah di mana-mana. Candaan khas Tim 4Welas beterbangan bebas, mulai dari saling nyalahke sampai ngakak tanpa sebab.
Basah kuyup sama sekali tak menyurutkan semangat. Justru setelah tenda berdiri—meski bentuknya agak “kontemporer”—menu utama pun muncul. Para istri dengan sigap mengeluarkan senjata pamungkas: sate kambing dan sate ayam, menu favorit sejuta umat Tim 4Welas.
Proses membakar sate pun tak kalah dramatis. Bergantian membakar sambil menangis bukan karena haru, tapi karena asap. Mata perih, hidung meler, tapi tangan tetap sigap membolak-balik sate. Begitu matang, tanpa aba-aba, semua langsung menyergap sate layaknya pasukan kelaparan. Makan bersama sambil bercanda, tertawa, dan saling ejek jadi bumbu paling nikmat malam itu.

Menjelang malam, udara mulai menusuk tulang. Namun Tim 4Welas jelas tidak kehabisan akal. Kayu-kayu dikumpulkan dan dibakar. Perlu ditegaskan, bukan untuk membakar masa lalu, melainkan untuk api unggun demi menghangatkan badan yang mulai menggigil.
Tikar digelar, cemilan dikeluarkan: kacang godok, pisang kukus, rambutan, gorengan, lengkap. Suasana makin panas—bukan karena api unggun, tapi karena saling ejek saat main kartu remi. Ada yang sok jago, ada yang kalah terus tapi ngotot, dan ada pula yang curiga temannya “punya ilmu”.
Tawa ria terus menggema. Malam yang seharusnya sunyi di Loji Gandusari justru berubah jadi festival kebisingan ramah keluarga. Konon katanya, para penghuni malam—entah burung hantu, jangkrik, atau makhluk halus setempat—memilih angkat kaki lebih dulu karena tak sanggup tidur mendengar riuhnya Tim 4Welas Camp Explorer.

Hingga larut malam, suara tawa masih terdengar. Ada yang ngopi, ada yang ngemil lagi, ada yang cerita ngawur sampai ketiduran sambil duduk. Dan ketika pagi menjelang, bukannya langsung bangun segar, justru terdengar keluhan khas:
“Lho, kok sudah pagi?”
“Ini tidur apa merem doang?”
Anak-anak sudah bangun duluan, lari-lari di antara tenda, sementara para om-om bangun dengan gaya khas—pinggang pegal, leher kaku, tapi tetap tersenyum. Kopi pagi pun diseduh, sarapan ala kadarnya dinikmati bersama, sambil mengenang kejadian semalam yang penuh tawa.
Begitulah gaya Tim 4Welas Camp Explorer. Datang rame-rame, pulang dengan cerita segudang. Bukan hanya tentang camping, tapi tentang kebersamaan, kekeluargaan, dan tawa yang tak pernah habis, bahkan sampai pagi.


