suaramerahputih.id // Tulungagung – Suasana khidmat sekaligus semarak menyelimuti kawasan wisata Pantai Kedung Tumpang, Desa Pucanglaban, Kecamatan Pucanglaban, Kabupaten Tulungagung, saat Pemerintah Desa Pucanglaban menggelar tradisi adat Sedekah Bumi Larung Sesaji, Sabtu (12/7/2026). Ritual budaya yang rutin dilaksanakan setiap bulan Suro tersebut menjadi wujud rasa syukur masyarakat atas limpahan rezeki sekaligus ikhtiar menjaga kelestarian tradisi warisan leluhur.
Kegiatan yang dimulai pukul 13.00 WIB itu dihadiri Camat Pucanglaban beserta jajaran, Kapolsek Pucanglaban bersama anggota, Danramil 0807/19 Pucanglaban beserta anggota, Kepala Desa Pucanglaban beserta seluruh perangkat desa, Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), jajaran BUMDes Pucanglaban, tokoh agama, tokoh adat, tokoh masyarakat, Karang Taruna, TP PKK, serta ratusan warga dan tamu undangan.
Tradisi Sedekah Bumi Larung Sesaji merupakan agenda budaya tahunan yang telah mengakar dalam kehidupan masyarakat Desa Pucanglaban. Selain menjadi bentuk ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas hasil bumi dan rezeki yang diperoleh, ritual ini juga menjadi simbol harapan agar masyarakat senantiasa diberikan keselamatan, keberkahan, serta dijauhkan dari berbagai musibah.
Dalam prosesi tersebut, masyarakat menyiapkan beragam sesaji berupa tumpeng, kepala kambing, aneka buah-buahan, serta hasil bumi berupa sayur-sayuran yang disusun secara khusus sebagai bagian dari ritual adat sebelum akhirnya dilarungkan ke laut.
Kepala Desa Pucanglaban, Maduki, mengatakan bahwa tradisi Sedekah Bumi Larung Sesaji merupakan warisan budaya yang memiliki nilai historis, spiritual, dan sosial yang sangat tinggi sehingga harus terus dijaga keberlangsungannya.
“Tradisi ini merupakan budaya warisan leluhur yang perlu terus kita lestarikan. Selain sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT atas segala nikmat yang diberikan, kegiatan ini juga menjadi sarana mempererat kebersamaan dan memperkuat identitas budaya masyarakat Desa Pucanglaban,” ujar Maduki.
Setelah seluruh rangkaian doa dan prosesi adat selesai dilaksanakan, ratusan warga secara bergotong royong memikul berbagai tumpeng, hasil bumi, buah-buahan, dan sesaji lainnya. Dengan iringan doa serta nuansa penuh khidmat, rombongan kemudian berjalan menuju bibir Pantai Kedung Tumpang untuk melaksanakan prosesi puncak, yakni larung sesaji ke tengah laut.
Prosesi tersebut menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat maupun pengunjung yang memadati kawasan pantai. Selain memiliki makna spiritual, ritual ini juga menjadi salah satu aset budaya yang mampu memperkuat potensi wisata berbasis tradisi di Desa Pucanglaban.
Pelaksanaan Sedekah Bumi Larung Sesaji tahun ini berlangsung aman, tertib, dan penuh kekhidmatan. Pemerintah Desa Pucanglaban berharap tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun tersebut dapat terus dilestarikan sebagai bagian dari kekayaan budaya lokal, sekaligus menjadi media edukasi bagi generasi muda agar tetap mencintai, menjaga, dan meneruskan nilai-nilai luhur budaya bangsa. (DN’97)


